Oleh: be sang pendaki | Maret 19, 2016

LAWU; MASA TERLEWATKAN

Menatap puncak Gn Lawu dari sudut sudut puncak Merapi, mengingatkan sebuah perjalanan di awal 97 an. Saat waktu luang di antara sahabat masa kecil masih menjadi momen yang mudah kami dapatkan. Kurang lebih 5 orang bersama-sama pergi berkenalan dengan jalur basah gn Lawu. Dari Magelang kami menggunakan jasa angkutan umum, Bis. Ceritanya begini bro..
Sabtu pagi – Menggunakan jasa bis Ramayana dari terminal Muntilan, layaknya keramaian suasana pasar begitu juga keadaan rombongan Lawu dadakan ini. Hawa panas ditambah kepulan asap rokok menjadikan rekaman perjalanan yang teramat klasik bila saja sempat didokumentasikan. Kali ini saya ditemani sebagian besar sahabat sahabat terdekat (Zaid, Son, Mba Ana, dan Koh Di).

DSC02445
Sabtu sore – sampai juga di Solo. Setelah asar menuju terminal Tirtonadi untuk mencari kendaraan menuju Sarangan. Tersedia bis menuju Tawang mangu, kemudian melanjutkan dengan angkutan pedesaan atau carteran bila sudah kemalaman. Biasanya terakhir jam 5-30. Melewati Tawang mangu, cemoro sewu dan cemoro kandang merupakan perjalanan yang cukup membuat mata fresh memandangnya. Sengaja kami menuju Sarangan dulu, istilahnya aji mumpung, mumpung lagi ada waktu gitu loh!. Disana kami menginap di losmen yang cukup murah namun rapi dan asri.

LAWU

Ahad – Sarapan nasi pecel di pinggiran telaga Sarangan semula membuat “insting kekotaan” kami bertanya tanya. Apa cocok ya pagi pagi dingin makan sambel pecel?? Berhubung Cuma ini yang murmer, akhirnya kita makan juga dah. Yang terjadi.. Alamaak, eunak tenan rek..! Siang harinya, angkutan pedesaan mengantarkan kami menuju cemoro kandang. Sempat kami berpapasan dengan anak anak yang bermain kereta kayu dengan roda besi bekas “bearing” memanfaatkan jalan menurun. Jam 3 sore tiba di Cemoro kandang. Tidak di jumpai kelompok pendaki lain di pos pendaftaran. Namun sebenarnya hari ini adalah waktu tertepat untuk mendaki gn Lawu. Mau tau.,?? Malam nanti bertepatan dengan 1 Suro yang konon banyak pendaki “mistik” berdatangan.

p1010570lawuuw
Malam jam 8 setelah sholat, pendakian dimulai. Jalur cemoro kandang secara umum lebih landai namun sedikit lebih jauh dibanding jalur Cemoro Sewu (katanya …). Dari jalur ini akan ditemui beberapa pos diantaranya
pos 1 (Taman Sari Bawah), pos 2 (Taman Sari Atas), pos 3 yang merupakan jalur memutari Cokro Suryo dan kemudian kita akan mendapati juga sebuah sumber mata air seperti sumur yang bernama Sendang Panguripan (sendang macan..?). Isu mengenai pendaki mistik ternyata sempat kami jumpai di sekitar pos 3 ( 2 orang memakai pakaian jubah ala walisongo dengan seluruh wajah di lumuri bedak Lumpur). Demikian juga dekat sendang kami bertemu dengan beberapa orang yang “nginap” demi 1 suroan. Dalam hati sempat bertanya Tanya, apa yang mereka cari ya..?. Lengkapnya pos pos yang ada di jalur Cemoro Kandang sudah banyak yang lupa tuh..
Singkatnya sekitar jam 7 pagi saya dan teman teman sampai di puncak Hargo Dumilah setelah sempat tidur 3 jam-an di tengah perjalanan.

DSC02497
Gunung Lawu memiliki beberapa puncak, puncak tertinggi adalah Hargo Dumilah dengan ketinggian 3.265 m dpl dengan di tandai sebuah tugu penuh corat coret tangan “kreatif”. Secara umum gn Lawu mempunyai jalur dan kondisi hutan yang relative sama dengan gunung gunung di jawa tengah.
Kurang lebih 30 menit di puncak Lawu merupakan saat kebersamaan dengan sahabat sahabatku (ooii.. jgn pade geer dulu cing!) yang begitu intim.. kekekek istilah opo iki rek?? Matahari pagi membuat kehangatan

(sekedar oleh2 sederhana buat para sahabat karena terlalu bokek untuk membawakan plencing kangkung, atau ayam taliwang, atau nasi balap, atau ceret maling )

11900082_10205695308156889_1255338576887868581_n
Syukur alhamdulillah…., awal juli 1997 Sang Maha Pencipta berkenan tuk mengijinkanku (Be sang Pendaki) sekedar menjejakkan kaki di pulau nan unik, pulau nan exotic, pulau seribu masjid: Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia Raya Tercinta Tanah Air Beta!!!Dan tahukah engkau wahai kawan….., ternyata ada goresan lukisan surga yang tlah terhampar di atas kanvas raksasa pulau Lombok oleh Sang Arsitek Alam.Ya…., Pulau yang dipimpin oleh seorang Ulama sekaligus Umaro yang disebut “Tuan Guru” itu ibarat sebuah Kanvas Raksasa dengan pantai-pantainya yang indah sebagai bingkainya.

11000546_10205704570828450_1423894052648614328_n
Beberapa judul lukisan alam yang tergores diatas kanvas raksasa pulau lombok itu adalah “Gunung Rinjani” , “Pantai kuta”, dan “Gili Trawangan”.
Gunung Rinjani! Gunung Rinjani dengan ketinggian 3.726 m dpl, mendominasi sebagian besar luas pulau Lombok. Gunung yang hikayatnya merupakan tempat bersemayam dewi Anjani ini dari sisi ketinggian merupakan Gunung Tertinggi ketiga seindonesia setelah Gunung Jayawijaya dan Gunung Kerinci. Tetapi dari sisi panorama, banyak yang berkomentar gunung ini sebagai Puncak terindah diantara “seven summit” yang ada di indonesia! Aaaaah, keindahan yang sulit untuk di ungkapkan dan dilukiskan dengan kata2! Andai saja kahlil gibran pernah melihat panorama Rinjani, mungkin kan sedikit lebih terdiskripsikan secara apik panorama Gunung dengan Kaldera berupa danau segoro anak yang berposisi 2000 m dpl itu…..
Tapi, dengan kamera klise ku, setidaknya keindahan sejumput surga itu bisa sedikit kita intip……subhanallah…..

11896208_10205695250875457_8158113280423113428_n
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah matinya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis binatang dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Al-Baqarah [2] : 164).

Untitled-Scanned-01
Ya…, bisa kita intip sejumput surga di sana…, tapi tuk merasakan sejuknya udaranya, segarnya oksigennya, dan merasakan nuansa magisnya………………………………………..  kamu harus datang dan menjejakkan kakimu di sana!!!!! Jadi……, kapan kamu mau ke sana????
Dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkanNya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal. (QS. Al-Jasiyah:5)

Oleh: be sang pendaki | Maret 19, 2016

MAHAMERU: Anak-anak Nekad

Membuat Perubahan
Kala banyak orang kehilangan nyali, kala banyak orang takut tersiksa, bersama sisa jiwa jiwa pemberani ku coba membuat perubahan. Pada tahun 1995 bulan juni, dari Magelang berangkat ke kota Malang. Kala itu aku (Kelas 2 SMA), mencoba menjelajah jawa bagian timur tepatnya ke gunung semeru. Ini adalah pendakian pertama kami ke Jawa timur.

312289_3226031

Kami memberaniakan diri di tengah ketidaktahuan. Hanya berbekal tekad, niat dan doa kamipun mencoba. Gunung Arjuna dan Semeru menjadi target pendakian kali ini

Meski aku tak punya banyak waktu dan uang tapi setidaknya aku punya nyali dan ambisi yang besar untuk membuat expedisi ini berhasil. Kala orang orang berkata bahwa pendakian gunung semeru akan menghabiskan dana sekitar 200 – 300 Ribu aku mencoba meng evaluasi harga tersebut. aku mulai mengira ngira harga yang pantas untuk gunung ini. Akhirnya harga itu pun mulai terbaca. 100 ribu adalah harga perkiraanku untuk gunung ini.

7117_103068

Tancap Gas
Di sini aku merasa menjadi orang yang paling bertanggungjawab karena telah mengajak 3 orang sahabatku. Walaupun sebenarnya aku kurang paham tentang pendakian gunung semeru, namun lagi lagi ambisi lah yang meyakinkanku. Kami mecoba membentuk sebuah tim yang solid demi keberhasilan expedisi ini. Ku hilangkan jabatan antara senior dan junior di tim ini. Semua bekerja berdasar tugasnya demi sebuah cita cita bersama.

7117_10306805

Pada hari pertama kami berangkat menuju malang jam 1 siang dengan menggunakan motor honda prima dan star Dengan kecepatan rata rata 80 KM/jam. Setelah melalui Boyolali-Sragen-Ngawi-Caruban-Nganjuk-Kertosono-Jombang-Mojokerto dan pandaan kamipun sampai di lawang. Kami mencoba mendaki gunung Arjuna melalui kebun teh wonosari. Di sela ketidaktahuan perjalanan kami banyak terhenti untuk bertanya pada penduduk, bahkan kami sempat terpisah di mojokerto hingga akhirnya bertemu kembali di Lawang.

 

Arjuna Yang Terbakar
Dengan susah payah akhirnya kami dapat mencapai basecamp pada jam 11 malam. Masalah mulai datang, Kami hanya di ijinkan mendaki hingga pos 2 karena Gunung arjuna sedang mengalami kebakaran. Harapan mulai pudar mengingat jauhnya perjalanan yang kami tempuh tidak berbuah hasil. Akhirnya kami banting stir menuju gunung semeru. Dari Lawang kami bergerak menuju Tumpang. Kami beristirahat di sebuah mushola kecil di pinggir jalan di daerah tumpang. Jam 3 pagi hari ke 2 kami menuju tempat perijinan gunung semeru yang terletak di daerah tumpang.

Pelanggan Pertama Photocopy
Masalah kembali melanda, syarat pendaki gunung semeru harus mempunyai KTP/SIM. MuhSon dan Koh Di menggunakan SIM, sedangkan aku dan Zaid tidak mempunyai SIM/KTP. Pendaki harus mempunyai photocopy SIM/KTP sebagai salah satu syarat pendakian. Kami segera mencari tempat photocopy. Mengingat kami sudah mulai berada di daerah pedalaman kami harus turun menuju arah Lawang untuk menemukan tempat photocopy. Setelah menemukan tempat photocopy kami tidur di terasnya mengingat saat itu masih jam 03.30 pagi.

Setelah toko itu buka kami menjadi pelanggan pertama. Jam 6 pagi setelah kami mencari makan kami segera kembali ke tempat perijinan dengan wajah harap harap cemas. Akhirnya dengan negosiasi yang cukup rumit kami ber 4 di ijinkan untuk menuju Ranupani yang merupakan basecamp pendakian Semeru.

Teh Panas Di Dermaga Ranupane
Sepanjang 25 Km menuju ranupani adalah perjalanan yang menyenangkan, melewati persawahan, bukit bukit dan pemandangan menawan gunung Bromo yang di hiasi dengan terik mentari pagi. Jalan yang kami lalui sangat extreem, Jalan ini biasa di lewati jeep yang disewa oleh para pendaki. Bahkan tak jarang pembonceng harus turun dari singgasananya mengingat jalan yang teramat terjal.

Melalui perjalanan yang menyenangkan dan menegangkan akhirnya kami mencapai desa Ranupani. Ranu pani adalah desa yang berketinggian 2200 MDPL. Di desa tersebut terdapat 2 danau, yaitu ranu pani dan ranu regulo. Setelah beristirahat dan meneguk teh panas di dermaga ranupane di iringi air yang masih berkabut kami pun mulai bersiap. Kami menitipkan motor dan memberikan surat ijin dari pos perijinan kepada petugas. Lalu pendakian ini pun dimulai.

Pertama kami melewati jalanan aspal yang disusul oleh jalanan setapak. Kami melewati pinggir bukit yang bergelombang sehingga membuat jalur berkelok kelok. Di tengah perjalanan kami melewati batu yang sangat besar di kanan jalan yang di sebut Waturejeg. Setelah itu jalan mulai menyempit dengan longsor di beberapa kawasan.

Setelah berjalan sepanjang 10 KM akhirnya kami sampai di kawasan ranu kumbolo sekitar jam 12 siang. Kabut menyambut kami di tengah keindahan ranukumbolo. Padang sabana seakan ramah menggoda memaksa kami untuk berhenti. Ketenangan air ranu kumbolo seakan menggambarkan kedamaian sejati yang abadi.

Kopi Susu Di tepi Ranukumbolo
Danau ranu kumbolo mempunyai luas sekitar 14 hektar. Dengan ribuan ikan emas yang mendiaminya. Kawasan danau ranu kumbolo yang indah ini berketinggian 2400 MDPL. Kami beristirahat di pos ranukumbolo yang berupa bangunan tembok bergenteng. Sambil memasak sesekali kami mencelupkan kaki ke air ranu kumbolo. Angin surga seakan menggores rambutku di sela tegukan hangat kopi susu. Inilah hidup yang sesungguhnya dan merdekalah jiwa kami.

Jam 1.30 kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Arcopodo (Target camp). Kami membawa cukup banyak air karena sumber air di kawasan kalimati letaknya tersembunyi. Kami tak mau mengambil resiko karena setiap jejak yang terukir adalah langkah pertama kami di tempat itu.
Oro oro ombo kembali memanjakan mata kami. Oro oro ombo adalah bekas rawa yang mengering yang di tumbuhi vegetasi rumput. Besarnya mencapai lapangan bola Abu Bakrin
Dari sini puncak semeru mulai terlihat,bersembunyi di balik bukit. Kepulan asap tebal berterbangan dalam rentang 15 menit yang merupakan luapan kawah jonggring saloka dan sekaligus menjadi ciri khas gunung Semeru.
Sekitar pukul 5 sore kami sampai di kalimati. Di sini beralaskan pasir bekas letusan kawah jonggring saloka.Di sini terdapat kawasan terbuka yang cukup luas untuk mendaratkan helikopter. Dari sini puncak semeru baru menampakkan dirinya dengan keagungan yang mempesona.

Kami mulai memasuki kawasan hutan yang kaya akan vegetasi. Bunga bunga biru kuning bertebaran di antara pohon cemara.Kawasan ini di sebut kawasan cemoro kandang. Jalur tidak terlalu menanjak hingga sampai di kalimati. Di tengah jalan banyak di jumpai hewan liar yang di perkirakan babi

10-Ara-Ara-Amba-Wide-Plain-Savanna.jpg

Malam Menjelang,Petang Menyambut
Lalu kami melanjutkan perjalanan menuju Arcopodo. Tapi sayang petang telah tiba,sehingga kami harus berhenti membangun tenda. Malam itu menjadi malam yang mencekam karena para personil mulai kehilangan semangat. Setelah makan malam kami beristirahat untuk menghemat tenaga.
Jam 3 pagi hari ke 3 kami kembali berangkat menuju arcopodo. Dari arcopodo Jalanan semakin terjal dengan jurang di kanan dan kiri. Banyak jalur jalur longsor dan rapuh. Medan mulai berbatu dan berpasir.

1 jam berselang kami mencapai Cemara tunggal. Beberapa meter sebelum cemara tunggal kami melewati jalur yang sangat berbahaya, berupa pasir, sempit dan mudah lonsor. Daerah itu sering disebut daerah kelik. Sedangkan cemara tunggal adalah pohon cemara tertinggi di gunung semeru yang berdiri gagah sendirian di batas vegetasi.

309269_2885000

Summit Attack
Dari sini letusan jonggring saloka semakin indah,mengepul bak raksasa pasir. Dengan sisa sisa tenaga kami berjalan menuju puncak. Medan yang harus dilewati adalah tanjakan pasir dengan hiasan kerikil yang membuat kami cukup kerepotan melaluinya. Namun saat matahari terbit, seolah kami bangkit dari keterpurukan. Sinarnya memancar menabur harapan bagi para petualang
Kaki kaki nekad terus berjalan Meski Sesekali terkapar. 3 jam berselang atau tepatnya jam 9 pagi kami menggapai mahameru (Puncak semeru). Kerja keras kami terbayar lunas oleh keindahan dalam kebanggaan.

269055_2191170

Siswa Pertama
Letusan jonggring saloka seakan ramah menyambut. In memoriam soek hoek gie seakan menjadi saksi bisu keberhasilan kami. Dan kamipun menjadi Siswa SMAN Kotamungkid Magelang yang menggapai ujung semeru.

Ku buktikan bahwa ketidaktahuan bukanlah musuh yang mengerikan karena sebenarnya tanda tanya adalah sesuatu yang membuat manusia terus berkembang

Oleh: be sang pendaki | Maret 18, 2016

Jangan bantu ia pecahkan cangkangnya!

Ketika aku kecil, nenekku pernah memarahiku saat aku mencoba mengupas telur yang terlambat menetas, kupikir itu adalah sebuah kebaikan lantaran aku membantu seekor ayam kecil keluar dari cangkangnya. Tapi ketika aku nekat melakukannya, nenekku malah menjewer telingaku pelan sambil berkata :
– “ Jangan Bantu ayam kecil itu, biarkan ia memecahkan cangkangnya sendiri”
aku tidak habis pikir kenapa aku dilarang melakukan kebaikan itu. Akhirnya akupun kembali meletakkan telur itu.
Esoknya ketika aku melihat anak2 ayam yang sudah menetas berkeciap dan berlari2 lucu, aku jadi kembali merasa iba dengan telur yang belum menetas tadi.
– “kasihan, biar kubantu kamu keluar dari cangkangmu ya ayam kecil..”.kataku
tanpa sepengetahuan nenekku, akupun mengambil telur yang sedang dierami induknya tadi. tanganku dipatuk oleh induk ayam itu, ia mengembangkan bulu2nya sambil berkoar. Sepertinya dia marah, tapi aku berhasil mengambil telur terakhir yang masih ia erami yang memang sudah sedikit retak itu. Aku mengupasnya sedikit demi sedikit, dan berhasil mengeluarkan seekor anak ayam kecil berbulu kuning, masih basah, dan… hidup.
– “aku memang pantas jadi dokter hewan.” Kataku polos.
Lalu tiba2 nenekku berdiri dibelakangku sambil berteriak menyebut namaku
– “beeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee!!???????????”
sembari tertawa, aku berlari menghindari amuk nenekku.
Setelah itu, sambil menatap air sungai yang mengalir, dibawah pohon waru, aku mencoba membandingkan ekspresi wajah nenekku ketika aku mencoba mengupas telur ayam yang terlambat menetas dengan ekspresi induk ayam ketika aku mengambil telur yang ia erami. Secara imajinasi, hasilnya benar2 mirip. Tapi aku masih tidak tahu kenapa mereka marah atas kebaikan yang kulakukan itu.
Lengkap sudah, semua telur yang dierami induk ayam itu sudah menetas semua, tentunya karena bantuanku. Aku kembali menghampiri kandang ayam tadi dengan perasaan bangga. semua anak2 ayam kecil itu terlihat sangat imut, berkeciap2 dan berlari sembunyi kecelah2 tubuh induknya ketika aku menghampirinya. Namun ada satu, anak ayam berbulu kuning jabrik lucu yang aku Bantu keluar dari cangkangnya tadi hanya bisa berkeciap2 disudut kandang, ia melompat pelan dan terjatuh. Ternyata ia tidak bisa berjalan. Ia lumpuh. Aku baru sadar, itulah hal yang ditakutkan nenekku dan induk ayam tadi. Alasan kenapa mereka marah.
Tak ada yang mengajari anak2 ikan berenang menerjang arus sungai, tak ada yang mengajari anak2 burung terbang menawafi cakrawala. Mereka hanya belajar bersama alam, mereka tahu sendiri apa yang harus mereka lakukan. Mereka belajar menjalani hidup dengan kemampuan yang mereka bisa. Arus air, ombak, angin ataupun batasan2 dirinya merupakan sesuatu yang harus mereka lalui. Tanpa mereka ataupun kita sadari, hal itulah yang bisa membuat mereka kuat, membuat mereka bisa terus menjalani hidup. Tanpa bantuan orang lain yang hanya akan membuat instinct mereka tumpul.
Belajar dari hal itu kini aku sadar, apa yang telah kulakukan terhadap ayam kecil tadi adalah hal yang tidak seharusnya kulakukan. Alam akan mengajarkan kearifannya, ia memberikan kekuatan dan pengetahuan yang tidak selalu bisa kita sadari.
Kemarahan nenekku dan induk ayam tadi merupakan satu bentuk bukti kemaha tololanku, bahwa aku hanyalah seorang bocah kecil polos yang tidak tahu apa2.
Kini ketika aku dewasa, aku bisa mengambil filosofi cerita masa kecilku itu. Di tempat aku berpijak ini, banyak sekali masalah2 dan kegagalan2 yang kualami. Bagiku hal itu merupakan cangkang telur yang harus kuretakkan dengan kemampuanku sendiri. Sebisa mungkin tanpa bantuan orang lain, karena aku harus bisa bangkit dan berjalan lurus dengan kekuatanku sendiri. Untuk satu hal, agar sahabat2 dan orang2 disekitarku bangga melihat ku :]

Oleh: be sang pendaki | Maret 17, 2016

Manifestasi rindu untuk yang tersayang

Seiring akhir rinai hujan di 3019 meter di atas permukaan laut.
Dalam sendiri jelang senja, hanya berteman dingin merasuk tiap pori tubuh.
Mata hanya menatap ke depan, sang Agung tampak sangat dekat bermantelkan kabut,
menelan raksasa itu seperti ia menelanku dengan mudahnya
Hingga akhirnya hanya tertinggal tirai putih dan dingin yang makin mencekat.
Menuruni tiap jengkal tanah basah, serasa tangan ini kembali menggandeng lenganmu
namun kau tak ada, kau di sana di bawah hangat mentari.
Bentang Mandalawangi penuh indah, tersaji ribuan bunga abadi dalam kuncup-kuncupnya.
Makin menusuk hatiku dalam sadar bahwa kau tiada untuk mengaguminya.
Sayang, indah puncak perjalananku ini untukmu!
Aku cuma ingin membaginya denganmu, aku mau egois saja saat ini.
Kita lah pemilik kecantikan lembah dewa ini.
Tak ada yang lain, hujan sekalipun…
Namun semua tak usai, masih ada perjalanan yang harus kutuntaskan,
Meskipun itu semakin menyiksaku dalam rindu tertahan,
Seharusnya kau ada, untuk membagi kisah masa lalumu
untuk kurebut semua dan kujadikan masa depanku.
Suryakencana,
Di lembah ini, rasa cemburu dan kembali sepi mengerubungiku,
Seiring gemetar tubuh melawan dingin, anganku kembali menghadirkanmu
Lagi dan lagi, dalam kisah klise dan membosankan
Tentang seorang tua yang menanti matahari pagi.
Kau lah matahari itu kekasihku,
dan aku menanti bayangmu datang dan memelukku di sini.
Di antara lembah-lembah ini, aku terbunuh sunyi.
Sekali ini dalam hidupku, aku membenci kesunyian.

Oleh: be sang pendaki | Maret 17, 2016

BUDHEG

Prolog : Ada orang kota yang datang ke desa. Belum lama ia tinggal bersama saudaranya di desa, ia meninggal karena penyakit kankernya. Dua orang yang bernama Sukin dan Bolot ditugaskan untuk mengangkatmayat orang kota itu ke pemakaman.
Sukin : “Cepet Lot …. langite mulai mendhung !”
Bolot : “Haa … ? Mayite mlembung??”
Sukin : “Lot … wis grimis.”
Bolot : “Apa ? Mayite mringis ?? Kin, aku wedi”
Sukin : “Gag sida Lot. Udane wis mandheg.”
Bolot : “Haa …?? Mayite ngadeg .. ?? bali wae yow Kin .. !?”
Sukin : “Wooo … dhasar budheg .. langite saiki wis terang.”
Bolot : “Biyung-biyung.. Mayite mbrangkang .. ? Aku tak mandheg kene wae Kin, mayite terna dewe.”
Sukin : “??!!??”
Prolog : Tak lama kemudian datanglah Marriah Cerry.
MC : “Good Morning everybody, how about pemakamannya?”
Bolot : “Opo … Maling … ? Kowe arep maling mayite?”
MC : “What? Dia berkata apa?”
Sukin : “Ora sah digagas mbak, tranahe kuwi cah ra genep !”
MC : “I don’t know what is your speak.”
Bolot : “Oh Yes … Yes … Yes … No … no … no …
Sukin : “Menengo wae tho lot … !! Gayamu sok ngenggris, koyo mudheng-mudhengo .. !
Prolog : Terdengar bunyi ringtone hp MC
MC : “Hello, dady. This brother’s pemakaman is finish, now I meet whit two people crazy.”
Bolot : “Haa … ? Sopo sing arep raby ? Kowe tho Kin ?”
Sukin : “Pye tho Lot, mbake kuwi ora ngomong raby neng crazy, edhan .. edhan …”
Mayit : “Kenapa aku dari tadi belum dimakamkan… ?”
Bolot : “Kin, kae Kin mayite tangi Kin .. “
Sukin : “Yo ora mungkin, go mayite wee … (sambil menunjuk mayit)
(Ketika itu MC pingsan dan Sukin lari terbirit-birit mengikuti Bolot. Mayatnya pun tertawa terbahak-bahak)

Pagi itu aku bersama Faqih, P ipul, mb sifa, Hikam, B Nur, P April, Ata, Balqis, B nDari, Pasha, B Arifah menuju Sungai Elo di Pare Blondo untuk memulai arung jeram pertamaku ini.

P1011267 - Copy.JPG

Tiba dilokasi suasana sudah agak ramai, maklum hari Ahad selalu ramai. Aku dan teman- teman segera mengenakan peralatan standar keamanan pribadi yang berupa pelampung, helm, dan dayung. Setelah briefing, kami menuju dua buah perahu yang masing- masing berkapasitas maksimal 6 orang, kamipun segera melakukan pemanasan agar tidak keram saat melakukan pengarungan. Saat itu 12 orang dari kami termasuk aku akan melakukan pengarungan dengan dua buah perahu sementara tim pemandu menjadi tim darat yang tetap berkomunikasi untuk memantau keselamatan tim yang melakukan pengarungan.

jos p saiful

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Selesai pemanasan kamipun segera mengangkat perahu menuju ke sungai dengan menuruni tangga yang cukup terjal. Ternyata perahu karet yang berisi angin itu berat juga untuk diangkat oleh enam orang. Sampai diair aku segera naik ke perahu disusul teman yang lain. Sebelum mengarungi sungai kami melakukan latihan kekompakan tim dan belajar cara mendayung yang benar . setelah dirasa cukup pemanasan diatas perahu maka kami segera memulai pengarungan. Beberapa ratus meter dari titik start keadaan air masih flat. Tidak disangka aku menjadi orang pertama yang dikerjai,,, tanpa persiapan aku diseret menggunakan gagang dayung dari belakang,, dan byurrrrrrrrrr, basah deh,!!!! Setelah beberapa jauh aku berenang, akupun mengejar perahu untuk naik kembali. Ternyata sulit juga untuk menaiki perahu karet dari air…

sahdu

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Beberapa saat kemudian akhirnya jeram pertama yang dinantikan pun sudah telihat. Aku dan kawan- kawan dikomando untuk mempercepat dayungan ketika memasuki jeram. Dan 1, 2, 3…. Kamipun masuk ke jeram pertama dengan teriakan untuk mengalahkan ketakutan yang sempat terlintas. Jeram pertamapun sudah berhasil kami taklukan dengan sukses tanpa ada satu anggotapun yang terjatuh dari perahu. Tidak lama kemudian tim 2 menyusul memasuki jeram tersebut dengan lancar pula. Beberapa jeram selanjutnyapun kami arungi dengan lancar hingga akhirnya pada jeram yang cukup besar salah satu temanku ada yang mengalami kejadian unik. B Ndari mengalami nasib kehilangan satu giginya,,, jadi ompong dah,,, jadi seluruh anggota pada tertawa melihatnya.

P1011280 - Copy.JPG
Sampai dipertengahan perjalanan kamipun transit untuk sekedar istrahat. Kelapa muda disiapkan oleh panitia untuk segera diberikan pada kami,,, srupuuuut,,, segar bener air kelamut ini..

P1011298.JPG
Perjalanan dimulai lagi,, siap!!!! Aku berangkat duluan, disusul perahu kedua. Lima belas menit berselang, sampailah pada jeram yang lumayan besar. Kami semua pada berteriak sesaat kapal menukik tajam dan menghantam tebing karang dengan cukup keras.. tak lama kemudian p Saiful terjatuh dari kapal. Akupun sempat khawatir dengan membayangkan bagaimana keadaan temanku tersebut. Tidak beberapa lama setelah keluar dari jeram akhirnya dia terlihat agak jauh dari perahu. Tidak lama kemudian temanku yang jatuh tadi sudah berhasil naik kembali ke perahu dengan selamat, hanya beberapa luka memar dikakinya karena terbentur bebatuan saat di jeram.

Sungguh sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Ketika aku berusaha mengendalikan arah badanku agar selalu kedepan, arus sungai yang deras langsung menghempasku terbalik tak karuan. Sesaat dapat kurasakan sakitnya badanku ketika menabrak batu- batu besar yang berada di jeram dengan panjang sekitar 20 meter itu. Aku merasakan bahwa saat itu aku seperti bola billiard yang memantul kesana kemari karena benturan.. Akhirnya setelah bertarung dengan jeram itu akupun dapat keluar darinya dengan nafas yang masih bisa kurasakan…. Ah… leganya… THANKS GOD..I’M STILL ALIVE. Setelah naik ke darat aku merasakan ada bagian kakiku yang berdarah karena benturan yang keras dengan bebatuan tadi, akan tetapi tidak parah sehingga aku masih bisa berteriak lega. Aku bersyukur sekali dapat merasakan pengalaman yang begitu syahdu. Tetapi hal ini tidak membuatku gentar sehingga aku mencoba kembali untuk terjun ke jeram ini. Tunggu aku di arung jeram selanjutnya!!

 

Hari itu 26 Desember 2015, Magelang mendung. Diperjalanan, hujannya kecil-kecil tapi awetnya kaya bisul di pantat, lama banget. Again, kalo lagi momen hujan kecil-kecil gini, banyak banget momen syahdu yang mendadak menggeliat lincah masuk dalam imajinasi kita. Gw kalo hujan gini langsung inget beberapa minggu lalu waktu lagi mendaki ke Gunung Ungaran. Salah satu pengalaman yang gw harap sih bisa keulang lagi ntah kapan. Gw mau cerita gimana pas naik gunung kemaren. Rada panjang sih, kalo mau baca boleh engga juga ga papa. *gelar tiker*

Mungkid-20151225-02420.jpg

Awalnya gw ngajak pasukan forsapala yang emang hobi banget berpetualang. Setelah sebelumnya Oktober kemaren diajakin rafting, gw diajakin lagi buat menantang diri sendiri lewat pendakian bareng ke Gunung Ungaran. Menjelang hari H, 8 personel malah gak bisa ikut, kentut lah gw sempet bingung juga, Akhirnya setelah nyari rel kereta api terdekat buat dijadikan tempat berfikir, gw memutuskan untuk berangkat juga. Udah kepalang tanggung bray akhirnya pergi dengan 3 sepeda motor aja. P April ma B nur dan kedua anaknya, fikur, sementara aq ma neng cantik .
Hari itu, gw udah siapin semua perlengkapan yang ada di set lis. Rombongan ini berangkat jam 14.00 sore dari Magelang menuju ke TKP.
Selama perjalanan tas gunung carrier yang saya bawa diletakkan dibelakang dan diransel oleh neng cantik,, tapi ternyata gw kurang peka,,,, tas yang begitu berat membuat neng cantik dibelakang menahan rasa capek yang luar biasa…. Sampai di daerah Sumowono baru gw nyadar kalo neng cantik udah gak kuat menahan beratnya ransel.. akhirnya tas gw letakkan didepan aja..
IMG-20151225-02436.jpg
Jalan menantang mulai terlihat di desa Gonoharjo,, jalan bebatuan meliuk liuk naik turun membuat jantung terus berdegup.. tiap jalan menanjak terpaksa yg bonceng harus turun karena motor tak kuat untuk ngaciir…
Sesampainya di kebun teh medini, kami sempat berfoto ria karena indahnya pemandangan di sore itu. Sejenak setelah melanjutkan perjalanan terjadilah apa yg selama perjalanan dikhawatirkan,, saat menanjak, motor tak kuat dan akhirnya, bruakkkk, gw ma neng cantik jatuh berguling2 kebawah,,, wah wah,,, untung gak ada yang liat karena yang lainnya sudah naik duluan. 3 jam perjalanan melalui jalan bebatuan sampailah kami di basecamp promasan. Gw n teman2 langsung memarkirkan motor didalam rumah biyung, dan istirahat sejenak..

 

Jam 10 malam gw siap mendaki gunung Ungaran. jeng-jeng-jeng mulai deh kerasa capeknya. Meskipun jalannya mulai nanjak, untungnya rasa dingin tak terlalu terasa walau udah ada di dataran yang lumayan tinggi. Satu hal yang pertama gw sadarin adalah, shit, kapan terakhir kalinya gw jogging atau jalan kaki ya? Ini kerasa banget kaki jarang dipake jalan. Sambil engos-engosan dan sedikit jaim sama pendaki lain (soalnya pendaki cewe pada kuat bener jalannya kek kuda) gw berusaha santai aja sambil ngeliatin pemandangan pegunungan yang indah dewi pertiwi banget. Semacam penyegaran untuk mata gw
Setelah melewati kebun teh, nerobos semak dan mendaki bukit akhirnya kita mulai masuk hutan. Hutannya lumayan lah, masih bisa dilewatin pake dua kaki. Di sini kita jalan bareng-bareng sama kelompok masing-masing supaya gak kepisah. Yang cowo estafet bawa carrier gede yang berisi perlengkapan kelompok kaya tenda, kompor, matras, air, bekal makanan dan lain-lain.
Track yang kita lewatin tergolong aman buat pendaki yang belum berpengalaman sekalipun,

P_20151226_082637_p.jpg

Habis ngelewatin kebun teh, kita mulai masuk hutan. Beneran hutan, artinya ya gak ada jalan lurus bertelapak lagi. Kita ngelewatin batu gede, akar, rumput basah, ranting, bahkan pohon yang ngelintang jatuh karena hujan. Gw sukses dengan gantengnya kejedot 2 kali nabrak pohon yang ngelintang. Mo gimana, gelap banget dan kita sampe gak bisa ngeliat samping kanan kiri itu pohon atau semak, yang diliat adalah senter langkah orang di depan kita. Imajinasi kotor gw adalah tiba-tiba ada tangan buluan yang narik gw di semak-semak kek mimpi gw, astojim. Makanya dalam hati gw berusaha ngilangin pikiran itu.

Beberapa kali kita sempet denger suara gemuruh kaya hujan, ternyata itu suara air di pohon yang ketiup angin. Intinya cuma disiplin dan doa yang bisa bikin kita selamat pas di hutan. Tiap beberapa menit kita langsung istirahat sebentar, sekitar beberapa menit kemudian lanjut lagi. Men, capek banget jalannya kaki kek mo patah. Yang gak kuat mungkin bisa nangis di tempat kali ya.

Setelah cukup lama berjalan di hutan, akhirnya kita mulai ke tempat yang bebatuan. Semakin deket sama puncak jalannya makin sepi sama pohon gede, yang ada cuma batuan sama rumput-rumput savana. Ketika udah sampai di jalan yang mulai mendaki, gw bersumpah ngeliat sosok kepala kura-kura raksasa yang nyembul di balik kabut (yang besok paginya gw ketahui sebagai batuan tebing yang menjorok di jurang). Pas jalan malem ini emang semuanya gelap, padahal kalo ada cahaya gw yakin kita semua bakal ngeri soalnya kanan kiri kita ini jurang.

P_20151226_081644_1_p.jpg

Sekitar tengah malam kami sampai di savanna tempat banyak sekali pendaki lain mendirikan dum, kamipun langsung menggelar dum untuk didirikan, dua dum sudah berdiri dan kamipun langsung tertidur pulas,,zzzz,,zzzz…

tak terasa, Dari langit timur yang berkabut tiba-tiba keliatan secercah sinar yang bertarung sama tebelnya kabut. Gw ngeliat ke arah jam sekarang udah hampir jam 6 pagi. Puncak Gunung Ungaran tingginya 2050 m.dpl, sebagai perbandingan aja puncak Mahameru yang notabenya tertinggi di Jawa 3637 m.dpl. Di puncak ternyata udah rame sama beberapa pendaki lain yang semalem udah bikin tenda di puncak, and yes tenda mereka kebanjiran gara-gara hujan semalem.

P_20151226_070005_p.jpg

Semua pendaki pada ngumpul, ada yang sholat, foto-foto ada juga yang langsung nyalain kompor buat masak. Gw sama kelompok langsung masak, udah laper tingkat kota madya bray. Sambil nyapin kompor pelan-pelan kabut mulai turun digantikan sama cahaya matahari. And this moment, gw bangun dari tempat duduk gw dan melihat ke sekeliling. Meskipun ini bukan puncak tertinggi di Jawa tapi apa yang gw liat dan gw rasakan pagi itu masih bisa gw rasakan sampai sekarang.

20151226_083127.jpg

 

Gw ngerasa kecil dan hampa banget, momennya para pendaki. Apa yang gw liat indah banget, gak bisa gw wakilkan sama kata-kata yang selama ini gw temuin di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Awan yang menggulung, hamparan hijau kehidupan di bawah, kabut, matahari pagi sama kehangatan antara para pendaki, momen ini namanya perfect.

P_20151226_081249_p.jpg

Gak lama kemudian kita akhirnya siap-siap turun. Iye di atasnya bentar aja, abis foto-foto kita pun turun. Dan ternyata turun gunung nggak lebih susah dari naiknya! Fix. Turun gunung capeknya dobel, tripel malah. Kita jadi tau jalur yang kita lewatin semalem. Jadi keliatan banyak pohon gede, semak sampe jurang membahayakan yang surprisingly bisa kita lewatin semalam. Banyak yang pada heran, men semalem gimana kita bisa ngelewatin batu segede gajah bengkak ini ya?

P_20151226_084700_1_p.jpg

Kekuatan manusia kalo lagi dihimpit sama alam emang luar biasa. Menjelang siang kita akhirnya sampai di pondokan dan akhirnya gw milih mandi. Mandi air dingin ini pas banget buat menghajar badan yang capeknya kaya dipukulin maling.

Itulah cerita penakhlukan gunung Ungaran yang penuh dengan kenangan….

 

Oleh: be sang pendaki | September 3, 2015

Edelweis…….. Dilindungi namun banyak diminati

KATAKANLAH dengan bunga. Pepatah baheula yang sampai sekarang masih dipakai ini amat cocok untuk melukiskan betapa sekuntum bunga bisa menjadi sangat berarti dalam kehidupan manusia. Terutama bagi orang-orang yang sedang jatuh cinta.
Bunga dianggap bisa mewakili perasaan seseorang, baik suasana hati yang bahagia maupun kesedihan. Banyak bunga dijadikan ‘buah tangan’ dari seorang jejaka kepada gadis yang disayanginya. Mulai dari bunga mawar, melati sampai bunga Edelweis.
Bunga Edelweis (Anaphalis javanica) sering juga disebut bunga abadi karena kemampuannya bertahan berbulan-bulan tanpa mengalami kerusakan. Seringkali dijadikan amsal atau perumpamaan cinta abadi seseorang.
Edelweis termasuk dalam katagori bunga langka bahkan termasuk flora yang dilindungi. Jumlahnya yang tidak begitu banyak serta habitatnya (tempat tinggalnya, Red.) yang khusus tumbuh di ketinggian diatas 1500m dari permukaan laut–biasanya terdapat di daerah pegunungan– membuat bunga yang sangat indah dan mempunyai banyak warna ini banyak diminati.
Tinggi pohonnya hanya 1/2-1m. Warnanya pun beragam dari kuning, ungu, merah sampai hijau. Di Indonesia, umumnya terdapat di pulau Jawa dan Sumatera. Sayangnya tidak terdapat di Kalimantan, karena rata-rata di wilayah Kalimantan tidak terdapat gunung yang tingginya diatas 1500m, kecuali gunung Kinibalu yang masuk ke dalam negara bagian Sabah, Malaysia.
Karena keabadiannya dan keindahannya, banyak orang (khususnya pendaki gunung) mengoleksinya baik untuk disimpan pribadi maupun sebagi oleh-oleh bagi rekan. Karena termasuk flora yang dilindungi, edelweis dilarang untuk dipetik dari habitatnya di pegunungan. Herannya edelweis banyak dijual di pasaran.
Di Malioboro, Yogyakarta, edelweis dengan berbagai warna dijual dalam vas bunga dengan harga Rp5000 sampai Rp10.000. Sementara di kota Malang, edelweis dijual dengan harga Rp3000. Bagi yang tidak sanggup hiking (mendaki gunung), cukup membeli di pasaran sudah bisa mengoleksi.
Namun bagi Be sang pendaki–salah seorang pendaki dari Sokle. Com– ada perasaan yang berbeda jika bunga edelweis yang dikoleksi berasal dari gunung yang langsung dipetik sendiri dengan membeli di pasaran.
“Saat kita bersusah payah mendaki gunung kemudian menemukan dataran yang ditumbuhi oleh beribu bunga edelweis sangat menakjubkan. Selain itu kita mesti main kucing-kucingan dengan penjaga pos pendakian buat membawa edelweis keluar dari gunung,” ujar Be sang pendaki
Be sang pendaki sendiri selalu menyempatkan untuk mengambil edelweis pada setiap pendakian gunung yang dilakukannya. Kurang lebih tujuh macam edelweis berhasil dikumpulkannya dari pendakiannya pada gunung-gunung di pulau Jawa.
Namun menurut dia, meski dianggap bunga abadi, edelweis pada akhirnya bisa juga mengalami kerusakan. Tapi jangka waktunya cukup lama. “Untuk menyiasatinya agar tetap awet biasanya saya semprot dengan menggunakan cairan formalin. Lumayan juga lebih tahan beberapa bulan,” tandasnya.100_3288sd

Oleh: be sang pendaki | September 3, 2015

Mendaki Gunung Untuk Menghargai Hidup

DSC04644

Mendaki gunung. Satu kegiatan yang oleh sebagian orang hanya dipandang sebagai kegiatan yang sia-sia. Tatapan mereka sinis dan tak jarang pula disertai dengan cibiran. Mereka pun berkata merendahkan, saat melihat sekolompok orang dengan carier sarat beban, topi rimba, baju lapangan, dan sepatu gunung yang dekil bercampur lumpur. Hanya sebagian saja yang menatap mereka dengan mata berbinar menyiratkan kekaguman.
Mengapa bisa begitu? Itu lantaran tidak banyak yang bisa memahami apa yang dirasakan oleh seorang pendaki. Karena perasaan yang luarbiasa itu hanya bisa benar-benar dirasakan oleh mereka yang telah mendaki gunung. Sehingga karena ketidaktahuan itulah banyak orang yang berseloroh; “Ngapain cape-cape naik gunung, menghabiskan waktu dan uang saja. Sudah disana dingin, ee.. setelah sampai di puncak turun lagi. Sungguh sia-sia….”
Tetapi kawan, tengoklah ketika mereka memberanikan diri untuk bersatu dengan alam agar bisa mendapatkan pendidikan darinya. Mereka melangkah, merayap, duduk dan berbaring hanya untuk merasa lebih dekat dengan ibu pertiwi. Mereka sangat mandiri dengan kepercayaan diri yang tinggi. Angan-angan mereka tinggi dan harapan mereka berkobar di dalam aliran darahnya. Semangat mereka pun terus membara dan “pantang kembali sebelum tiba di puncak idaman”.

DSC04564

Wahai kawan. Para pendaki ini bukanlah orang-orang yang tak berguna. Mereka adalah jiwa-jiwa yang tulus dan penuh rasa menghargai. Cinta pun tak lepas dari hati mereka. Ada semboyan abadi bagi para pendaki, yaitu (1) Jangan mengambil sesuatu kecuali gambar; (2) Jangan meninggalkan sesuatu kecuali jejak; (3) Jangan membunuh sesuatu kecuali waktu. Tiga hal inilah yang selalu tertanam di benak dan sanubari sang pendaki sejati. Sehingga mereka menjadi pribadi yang santun dan pengertian. Jika tidak, patutlah kita mengatakan bahwa ia hanyalah pecundang.
Begitulah segalanya terjadi. Prinsip seorang pendaki adalah, bahwa ketika kita peduli dengan alam, berarti kita telah peduli dengan kehidupan. Dalam sikap yang peduli dengan kehidupan itu, maka kita pun bisa lebih peduli dengan saudara, tetangga, bahkan musuh kita sendiri. Dan satu hal lagi yang tak mungkin dilupakan oleh seorang pendaki sejati adalah dimana ia akan benar-benar meyakini tentang kebesaran Tuhan, sehingga akan terus beriman kepada-Nya.

Mendaki gunung itu bukanlah menaklukkan alam, tetapi justru menaklukkan diri sendiri. Dengan menghancurkan ego pribadi, seorang pendaki sejati bisa berdamai dan bersahabat dengan dirinya sendiri. Mendaki gunung itu adalah kebersamaan, persaudaraan, dan saling ketergantungan antar sesama. Dan tidaklah mudah untuk bisa menjadi salah satu dari mereka. Karena di butuhkan orang-orang yang memiliki perasaan yang sama tentang alam semesta, yaitu cinta.

Wahai kawan. Tidaklah mudah menjadi pendaki, terlebih dengan banyaknya anggapan miring dengan kegiatan ini. Apalagi yang menyangkut kematian, yang tampaknya lebih dekat dengan para pendaki. Lihatlah! Berulang kali tersiar kabar tentang pendaki yang tewas di gunung. “Mati muda yang sia-sia…” Begitulah komentar orang-orang saat melihat anak muda harus digotong dalam kantung jenazah oleh tim SAR. Padahal soal kematian siapa yang tahu? Mau di gunung atau di kamar tidur, semua bisa saja mati. Di gunung itu hanya salah satu dari sekian banyak alternativ suratan takdir manusia. Kalau ajal sudah waktunya, siapapun akan mati. Tak peduli tempat dan kondisinya.

Kawanku. Jika selalu ketakutan dengan kematian, maka tidak mungkin sejarah mencatat bagaimana gagahnya Ibnu Batutah atau juga Marcopolo dan Columbus dalam menjelajahi dunia. Bagaimana pula kehidupan ini bisa berjalan lebih baik bila para penemu pesawat terbang takut dengan ketinggian? Di gunung, di puncaknya, dimana kaki ini bisa berpijak, terdapat tempat yang penuh kedamaian. Seseorang pun akan merasa dekat sekali dengan Tuhan, sehingga menundukkan kepala untuk bersujud dengan hatinya sekaligus. Disana pula pembuktian diri, tentang sebatas mana kita bertekad. Tentang bagaimana kita bisa melepaskan keegoisan diri dan sifat manja, menjadi seorang yang mandiri dan percaya dengan kemampuan diri sendiri. Bahkan kita pun akan tahu alasannya mengapa kita hidup dan tujuan kita hidup di dunia ini.

Rasa cemas, takut, letih dan bosan memang ada selama di perjalanan. Tetapi jika kita memandang ke atas, melihat puncaknya, seolah-olah terlihat jelas semua harapan dan kebahagiaan yang menanti. Gunung itu memang tinggi, jalurnya terkadang ekstrim dan jurangnya pun sangat dalam, tetapi selain itu ia sangat ramah dan membiarkan dirinya diinjak-injak oleh kaki manusia. Ada banyak luka lecet di tangan, ada kram otot, ada kelelahan yang sangat di kaki, ada napas yang terasa sesak dan jantung yang rasanya mau pecah, ada rasa haus yang mencekik, dan ada pula tanjakan tinggi yang seolah-olah tak pernah ada habisnya. Namun semua itu akan segera terbayar lunas ketika telah tiba di puncaknya. Semua pengorbanan itu tak sepadan dan tak ada artinya lagi, ketika kedua kaki bisa berdiri di puncak tertingginya.

10273825

Puncak gunung adalah puncak dari segala puncak. Ia bahkan bertambah nikmat tatkala kabut menyelimuti atau hembusan semilir angin menerpa diri dan sang surya pun terbit atau tenggelam di ufuknya. Sebuah maha karya yang sangat indah dari Sang Pencipta. Yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, lantaran hanya bisa terpana dan menangis terharu. O… betapa kecilnya diri ini, sedangkan Engkau wahai Tuhanku, teramat Agung dan Berkuasa.

Wahai kawan. Hanya bagi mereka yang bergelut dengan alamlah yang mengerti bagaimana rasanya mengendalikan diri dalam tekanan mental dan fisik. Bagaimana pula alam bisa merubah karakter seseorang. Karena alam bisa menjadi ibunda yang pengasih, tetapi bisa pula berbalik menjadi sangar dan menakutkan. Dan bila ada yang berpendapat minor tentang kegiatan alam ini, maka biarkan saja. Sebab siapa saja yang beranggapan begitu, yang memandang kegiatan ini sia-sia dan hanya mengantarkan nyawa, adalah tidak salah, tetapi tidak sepenuhnya benar. Mereka itu hanya belum paham, bahwa ada satu cara yang mereka tidak bisa merasakannya, seperti yang dirasakan oleh seorang pendaki. Yaitu sebuah kemenangan disaat kaki sudah tiba di puncak tertinggi.

Sungguh, semua kenangan indah di puncak gunung tertoreh abadi di dalam jiwa para pendaki. Sebuah pengalaman yang diraih setelah perjuangan panjang mengalahkan diri sendiri. Setelah diri berani mengambil keputusan di antara beberapa pilihan; terus mendaki atau berhenti sampai disini. Karena yakinlah, bahwa tidak hanya di gunung saja kita harus membuat keputusan di tengah tekanan. Dan betapa hidup itu mahal. Betapa hidup itu ternyata terdiri dari berbagai pilihan. Sebab kita harus mampu memilihnya meski dalam kondisi terdesak. Sehingga di gununglah kita belajar. Di gununglah kita bisa lebih baik dalam memilih yang terbaik.

Kawan ku. Satu pesan yang dapat diambil yaitu, janganlah lupa bahwa kita ini hanyalah makhluk yang fana dan lemah. Jangan pernah sombong, karena hanya mendaki satu gunung-Nya saja kita sudah hampir tak berdaya. Bagaimana bila harus menciptakan yang sama dengan ciptaan-Nya itu? Sehingga sadarlah, bahwa tunduk pada setiap perintah-Nya adalah jalan satu-satunya untuk bisa dikatakan bersyukur dan meraih kebahagiaan yang sejati.

bromo3Dan ingatlah, bahwa manusia itu suatu saat nanti akan kembali ke asalnya. Tidak ada yang abadi, sebab ia hanya diberikan waktu yang singkat saja. Hanya gunung yang tetap kokoh di tempatnya sebagai pasaknya bumi. Sementara manusia tidak. Ia haruslah senantiasa menghargai hidup dengan salah satu caranya yaitu mendaki gunung. Satu kali mendaki gunung, berarti satu kali ia sudah menghargai hidup. Dua kali, berarti sudah dua kali pula ia telah menghargai hidup. Begitu pun seterusnya, hingga ia pun tidak bisa kembali lantaran telah kembali kepada-Nya.
Salam hormatku selalu untuk para kawan pendaki…

Older Posts »

Kategori