Oleh: be sang pendaki | Maret 2, 2012

Belantara alam Berikan Hidup


(Tragedi pendakian Sindoro, Januari 1998)

Oleh: Be

 

Malam itu angin menyadarkan kebisuan jiwaku

Gerimis itu tiba-tiba menjadi deras
Ketika ku pandangi bayangan ragaku tepat dibawah puncak gunung Sindoro
Terjebak dari yang tadinya di kedamaian sunyi rimba
Mendadak dinginnya angin bersama badai dan hujan deras mengusirku dari tanah miring

Laksamana kabut tebal  mulai merayap perlahan
Menutupi puncak puncak yang menyimpan misteri
Mengantarkan malam pada hutan yang berubah mencekam
Mengantarkan gelap pada jiwa yang terjebak dikeributan alam

 

Badai yang menderu-nderu, berkomplot dengan hujan deras meluluh lantakkan hutan itu.

Tendaku sebagai satu-satunya tempat berlindung, terbang entah kemana

Aku hanya bisa diam mematung, duduk termangu tanpa bisa berbuat apa-apa.

Empat jam sudah patung hidup berjajar berhimpitan diantara tebing dan pepohonan

 

Secercah harapan muncul dari timur

Langit yang semburat seolah menyapu badai dan hujan.

Pagi menjelang kupandangi sekitarku

Ahh, dua anak manusia benar benar menjadi patung

Tubuhnya sudah kaku tanpa nyawa

 

Inikah salah satu bentuk kemarahan alam?

Atas apa yang telah dilakukan oleh sebagian besar anak manusia

Yang tidak menjaga alam dengan baik dan justru merusaknya?????

Pertolongan sebisanya pun mulai di persiapkan
Kita bahu membahu saling menolong sesama
Menyambut pagi yang selimuti belantara
Lupakan dendam dan mulailah tertawa


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: