Oleh: be sang pendaki | Maret 2, 2012

Saat Senja di Suryakencana


(Kisah pendakian Gede Pangrango, Agustus, 1997)

Oleh: Be

Rasa takjub  dan kagum  mengalahkan lelah kakiku melangkah

Ketika mataku memandang sudut demi sudut  hamparan luas di depanku

Sebuah lembah yang dihiasi ribuan bunga edelweis nan eksotis

Alun-alun Surya Kencana

Subhanalloh, langkah demi langkah kujejakkan kaki

Edelweis-edelweis itu seperti menanti kedatanganku

Seperti para putri raja mengerling manja yang membicarakan pangeran pujaannya

Ah tentu saja bukan, kalianlah para bidadari

dan aku hanya  seorang  pemuda yang tak henti-hentinya berdecak kagum

Antara takjub, kagum  dan ungkapan rasa syukur yang meresap di relung hati

Air bening mengalir di tengah-tengah  padang surya kencana

Gemericik air dari dinding tanah adalah alunan nada-nada harmoni

yang partiturnya masih menjadi rahasia besar manusia

Desir angin sepoi-sepoi yang terkadang lebih kencang  menyapu pohon dan dedaunan

Seperti tentang kepakan sayap malaikat penyemai edelweis sang abadi

dan buah arbei merah segar yang menjuntai gemulai

Aku ingin berlama-lama disini

Aku belum pernah melihat yang seperti ini

Aku ingin waktu lebih untuk menikmati keindahan ini

Bagaimana dengan puncak?

Jangan kau ceritakan dulu apa yang akan kutemukan di atas sana

Pastilah ada lagi ribuan ketakjuban di sana

Dipuncaknya tanah sunda….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: