Oleh: be sang pendaki | Maret 8, 2012

The journey to lawu

Ku coba lagi gambarkan sebuah kisah tentang aku dan alam. Meski tak terlalu ingat sepenuhnya tapi ku kan selalu ingat saat saat penting yang terlewati di ketinggian. Kala itu aku,Paijo, Aan, Kipli, Regent, dan senthot berencana menggapai puncak lawu lewat jalur cemara kandang. Dan expedisi pun dimulai.

30 Juli 2011 aku,Paijo, Aan, Kipli, Regent, dan senthot berangkat menuju ke cemara kandang. Dari rumahku yang berada di Magelang kami menggunakan motor melalui rute Magelang-Yogya-Solo-Karang anyar-Cemara kandang. Kami sempat istirahat ditengah perjalanan untuk sholat Asar di Solo dan saat magrib kami berjamaah di masjid pinggir jalan jalur tawang mangu. Sekitar jam 7 malam kami telah sampai di cemara kandang. Sesampainya di cemara kandang kami melakukan registrasi di pos pendakian dan menitipkan motor kami. Namun sebelumnya, kami sempat mampir diwarung dekat basecamp untuk sekedar ngopi dan makan nasgor untuk mengisi perut.

Seperti biasa keadaan di sini sangat sejuk. Kabut tipis menutupi lembah lembah yang indah dan kebun kebun sayur yang hijau. Sebelum melakukan pendakian kami terlebih dahulu mengisi perut di warung seberang jalan. Di sini banyak warung yang buka pada hari libur. Kawasan ini sering di kunjungi para remaja yang sengaja jalan jalan untuk mencari udara segar.

Setelah mempersiapkan segalanya kamipun berangkat. Pos 1 dapat di tempuh sekitar 1 jam perjalanan. Jalan yang di lewati akan membentang di tengah hutan yang cukup lebat. Di hutan ini banyak monyet monyet hitam yang kadang kala menyapa para pendaki. Jalan yang di lalui juga tidak terlalu terjal.

Pos 1 berada di kiri jalan. Pada saat tertentu biasanya ada yang berjualan makanan di pos 1. Waktu itu hujan turun lumayan deras sehingga kami harus berteduh sejenak di pos 1. Beberapa menit berselang kami melanjutkan perjalanan ke pos 2. Jalan yang di lewati lebih menanjak dari sebelumnya. Jalan yang dilewati pun lumayan licin setelah terguyur hujan.

Setelah 1 jam berselang kami sampai di pos 2. Pos 2 juga terletak di kiri jalan. Keadaan pos 2 waktu itu lumayan rusak. Karena hari semakin sore kami langsung melanjutkan perjalanan menuju pos 3. Perjalanan dari pos 2 ke pos 3 lumayan jauh sehingga cukup menyita waktu

Sekitar jam 1 dini hari gerimis menyambut kedatangan kami di pos 3. Tubuh menggigil karena basah terkena hujan. Kami langsung mendirikan tenda di depan pos sebelum hujan bertambah deras. Sebelum tenda berdiri hujan lebat pun tiba hingga akhirnya kami mendirikan tenda di dalam pos 3

Gunung lawu adalah gunung yang mungkin paling dingin sejawa. Suhu di puncaknya bisa sampai -8 derajat Celcius. Malam itu keadaan tak menentu kadang hujan dan kadang terang. Kami menghabiskan waktu di dalam pos sambil menikmati secangkir teh sambil bercerita apa yang perlu di ceritakan. Setelah hari cukup malam akhirnya kamipun tidur.

Di dekat pos 3 ada mata air yang bernama sendang penganten. Pendaki yang bermalam di pos 3 biasanya mengambil air di situ. Jarak mata air dari pos 3 sekitar 50 meter

Sekitar jam 4.30 pagi kami melanjutkan perjalanan ke puncak. Beberapa menit berselang kami melewati sendang penganten yang berada di kanan jalan. Perjalanan ke pos 4 akan melalui jalur yang sangat panjang. Jalur yang di lalui tidak terlalu terjal sehingga cukup menyita banyak waktu.

Beberapa menit sebelum sampai di pos 4 matahari mulai terbit. Sejenak kami nikmati indahnya mentari pagi sebelum melanjutkan perjalanan. Sekitar jam 6 pagi kami sampai di pos 4. Pos 4 terbuat dari batu bata dan terletak di kiri jalan. Di depan pos 4 ada tanah lapang yang cukup luas yang biasanya di gunakan untuk mendirikan tenda. Pagi itu rumput rumput tampak basah karena hujan semalam. Pagi ini pun tak secerah biasanya

Kami segera melanjutkan perjalanan menuju puncak. Jalan yang dilewati masih datar seperti sebelumnya. Bunga edelweis mulai tampak di kanan dan kiri jalan. Jalur yang di lewati naik turun bukit hingga akhirnya kami sampai pada sebuah pertigaan. Jika pendaki mengambil jalan lurus maka akan sampai di Rumah botol lalu Sendang Derajat (Pos 5 jalur Cemara Sewu) jika berbelok ke kanan maka akan sampai di puncak lawu. Sekitar 30 menit dari pertigaan akhirnya kami sampai di puncak lawu. Kembang api yang Aan bawa langsung dibunyikan bersama-sama. Suasana langit kala itu sungguh syahdu……

Puncak lawu tampak ramai seperti biasanya. Banyak pendaki berdatangan dari seluruh penjuru Indonesia. Kabut tebal masih setia mengiringi kami sehingga kawah lawu yang indah pun tak terlihat oleh mata. Pagi ini tak secerah biasanya, meski kami lebih semangat dari biasanya

Setelah sejenak beristirahat dan mengambil foto kami mulai turun gunung. Kami turun melalui candi cetho. Saat perjalanan turun tak ada masalah berarti yang menghambat langkah kami. Justru pemandangan didaerah ini sangatlah indah. Karena banyak dijumpai padang savana yang luas menghijau. Butiran-butiran saljupun masih banyak menempel direrumputan sepanjang perjalanan kami. Kami sampai di basecamp candi cetho dengan selamat sekitar jam 2 siang.

Aku cukup sering naik gunung lawu ,namun hal yang paling tak terlupakan adalah keadaan cemara sewu dan cemara kandang yang amat sejuk. Kebun strawberri yang amat segar ketika pagi hari. Atau kepulan asap sate kelinci ketika gerimis datang. Bagiku kenangan tentang gunung lawu lebih indah dari gunung lawu itu sendiri


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: