Oleh: be sang pendaki | Maret 18, 2016

Jangan bantu ia pecahkan cangkangnya!

Ketika aku kecil, nenekku pernah memarahiku saat aku mencoba mengupas telur yang terlambat menetas, kupikir itu adalah sebuah kebaikan lantaran aku membantu seekor ayam kecil keluar dari cangkangnya. Tapi ketika aku nekat melakukannya, nenekku malah menjewer telingaku pelan sambil berkata :
– “ Jangan Bantu ayam kecil itu, biarkan ia memecahkan cangkangnya sendiri”
aku tidak habis pikir kenapa aku dilarang melakukan kebaikan itu. Akhirnya akupun kembali meletakkan telur itu.
Esoknya ketika aku melihat anak2 ayam yang sudah menetas berkeciap dan berlari2 lucu, aku jadi kembali merasa iba dengan telur yang belum menetas tadi.
– “kasihan, biar kubantu kamu keluar dari cangkangmu ya ayam kecil..”.kataku
tanpa sepengetahuan nenekku, akupun mengambil telur yang sedang dierami induknya tadi. tanganku dipatuk oleh induk ayam itu, ia mengembangkan bulu2nya sambil berkoar. Sepertinya dia marah, tapi aku berhasil mengambil telur terakhir yang masih ia erami yang memang sudah sedikit retak itu. Aku mengupasnya sedikit demi sedikit, dan berhasil mengeluarkan seekor anak ayam kecil berbulu kuning, masih basah, dan… hidup.
– “aku memang pantas jadi dokter hewan.” Kataku polos.
Lalu tiba2 nenekku berdiri dibelakangku sambil berteriak menyebut namaku
– “beeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee!!???????????”
sembari tertawa, aku berlari menghindari amuk nenekku.
Setelah itu, sambil menatap air sungai yang mengalir, dibawah pohon waru, aku mencoba membandingkan ekspresi wajah nenekku ketika aku mencoba mengupas telur ayam yang terlambat menetas dengan ekspresi induk ayam ketika aku mengambil telur yang ia erami. Secara imajinasi, hasilnya benar2 mirip. Tapi aku masih tidak tahu kenapa mereka marah atas kebaikan yang kulakukan itu.
Lengkap sudah, semua telur yang dierami induk ayam itu sudah menetas semua, tentunya karena bantuanku. Aku kembali menghampiri kandang ayam tadi dengan perasaan bangga. semua anak2 ayam kecil itu terlihat sangat imut, berkeciap2 dan berlari sembunyi kecelah2 tubuh induknya ketika aku menghampirinya. Namun ada satu, anak ayam berbulu kuning jabrik lucu yang aku Bantu keluar dari cangkangnya tadi hanya bisa berkeciap2 disudut kandang, ia melompat pelan dan terjatuh. Ternyata ia tidak bisa berjalan. Ia lumpuh. Aku baru sadar, itulah hal yang ditakutkan nenekku dan induk ayam tadi. Alasan kenapa mereka marah.
Tak ada yang mengajari anak2 ikan berenang menerjang arus sungai, tak ada yang mengajari anak2 burung terbang menawafi cakrawala. Mereka hanya belajar bersama alam, mereka tahu sendiri apa yang harus mereka lakukan. Mereka belajar menjalani hidup dengan kemampuan yang mereka bisa. Arus air, ombak, angin ataupun batasan2 dirinya merupakan sesuatu yang harus mereka lalui. Tanpa mereka ataupun kita sadari, hal itulah yang bisa membuat mereka kuat, membuat mereka bisa terus menjalani hidup. Tanpa bantuan orang lain yang hanya akan membuat instinct mereka tumpul.
Belajar dari hal itu kini aku sadar, apa yang telah kulakukan terhadap ayam kecil tadi adalah hal yang tidak seharusnya kulakukan. Alam akan mengajarkan kearifannya, ia memberikan kekuatan dan pengetahuan yang tidak selalu bisa kita sadari.
Kemarahan nenekku dan induk ayam tadi merupakan satu bentuk bukti kemaha tololanku, bahwa aku hanyalah seorang bocah kecil polos yang tidak tahu apa2.
Kini ketika aku dewasa, aku bisa mengambil filosofi cerita masa kecilku itu. Di tempat aku berpijak ini, banyak sekali masalah2 dan kegagalan2 yang kualami. Bagiku hal itu merupakan cangkang telur yang harus kuretakkan dengan kemampuanku sendiri. Sebisa mungkin tanpa bantuan orang lain, karena aku harus bisa bangkit dan berjalan lurus dengan kekuatanku sendiri. Untuk satu hal, agar sahabat2 dan orang2 disekitarku bangga melihat ku :]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: