Oleh: be sang pendaki | Maret 19, 2016

LAWU; MASA TERLEWATKAN

Menatap puncak Gn Lawu dari sudut sudut puncak Merapi, mengingatkan sebuah perjalanan di awal 97 an. Saat waktu luang di antara sahabat masa kecil masih menjadi momen yang mudah kami dapatkan. Kurang lebih 5 orang bersama-sama pergi berkenalan dengan jalur basah gn Lawu. Dari Magelang kami menggunakan jasa angkutan umum, Bis. Ceritanya begini bro..
Sabtu pagi – Menggunakan jasa bis Ramayana dari terminal Muntilan, layaknya keramaian suasana pasar begitu juga keadaan rombongan Lawu dadakan ini. Hawa panas ditambah kepulan asap rokok menjadikan rekaman perjalanan yang teramat klasik bila saja sempat didokumentasikan. Kali ini saya ditemani sebagian besar sahabat sahabat terdekat (Zaid, Son, Mba Ana, dan Koh Di).

DSC02445
Sabtu sore – sampai juga di Solo. Setelah asar menuju terminal Tirtonadi untuk mencari kendaraan menuju Sarangan. Tersedia bis menuju Tawang mangu, kemudian melanjutkan dengan angkutan pedesaan atau carteran bila sudah kemalaman. Biasanya terakhir jam 5-30. Melewati Tawang mangu, cemoro sewu dan cemoro kandang merupakan perjalanan yang cukup membuat mata fresh memandangnya. Sengaja kami menuju Sarangan dulu, istilahnya aji mumpung, mumpung lagi ada waktu gitu loh!. Disana kami menginap di losmen yang cukup murah namun rapi dan asri.

LAWU

Ahad – Sarapan nasi pecel di pinggiran telaga Sarangan semula membuat “insting kekotaan” kami bertanya tanya. Apa cocok ya pagi pagi dingin makan sambel pecel?? Berhubung Cuma ini yang murmer, akhirnya kita makan juga dah. Yang terjadi.. Alamaak, eunak tenan rek..! Siang harinya, angkutan pedesaan mengantarkan kami menuju cemoro kandang. Sempat kami berpapasan dengan anak anak yang bermain kereta kayu dengan roda besi bekas “bearing” memanfaatkan jalan menurun. Jam 3 sore tiba di Cemoro kandang. Tidak di jumpai kelompok pendaki lain di pos pendaftaran. Namun sebenarnya hari ini adalah waktu tertepat untuk mendaki gn Lawu. Mau tau.,?? Malam nanti bertepatan dengan 1 Suro yang konon banyak pendaki “mistik” berdatangan.

p1010570lawuuw
Malam jam 8 setelah sholat, pendakian dimulai. Jalur cemoro kandang secara umum lebih landai namun sedikit lebih jauh dibanding jalur Cemoro Sewu (katanya …). Dari jalur ini akan ditemui beberapa pos diantaranya
pos 1 (Taman Sari Bawah), pos 2 (Taman Sari Atas), pos 3 yang merupakan jalur memutari Cokro Suryo dan kemudian kita akan mendapati juga sebuah sumber mata air seperti sumur yang bernama Sendang Panguripan (sendang macan..?). Isu mengenai pendaki mistik ternyata sempat kami jumpai di sekitar pos 3 ( 2 orang memakai pakaian jubah ala walisongo dengan seluruh wajah di lumuri bedak Lumpur). Demikian juga dekat sendang kami bertemu dengan beberapa orang yang “nginap” demi 1 suroan. Dalam hati sempat bertanya Tanya, apa yang mereka cari ya..?. Lengkapnya pos pos yang ada di jalur Cemoro Kandang sudah banyak yang lupa tuh..
Singkatnya sekitar jam 7 pagi saya dan teman teman sampai di puncak Hargo Dumilah setelah sempat tidur 3 jam-an di tengah perjalanan.

DSC02497
Gunung Lawu memiliki beberapa puncak, puncak tertinggi adalah Hargo Dumilah dengan ketinggian 3.265 m dpl dengan di tandai sebuah tugu penuh corat coret tangan “kreatif”. Secara umum gn Lawu mempunyai jalur dan kondisi hutan yang relative sama dengan gunung gunung di jawa tengah.
Kurang lebih 30 menit di puncak Lawu merupakan saat kebersamaan dengan sahabat sahabatku (ooii.. jgn pade geer dulu cing!) yang begitu intim.. kekekek istilah opo iki rek?? Matahari pagi membuat kehangatan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: