Oleh: be sang pendaki | Maret 19, 2016

MAHAMERU: Anak-anak Nekad

Membuat Perubahan
Kala banyak orang kehilangan nyali, kala banyak orang takut tersiksa, bersama sisa jiwa jiwa pemberani ku coba membuat perubahan. Pada tahun 1995 bulan juni, dari Magelang berangkat ke kota Malang. Kala itu aku (Kelas 2 SMA), mencoba menjelajah jawa bagian timur tepatnya ke gunung semeru. Ini adalah pendakian pertama kami ke Jawa timur.

312289_3226031

Kami memberaniakan diri di tengah ketidaktahuan. Hanya berbekal tekad, niat dan doa kamipun mencoba. Gunung Arjuna dan Semeru menjadi target pendakian kali ini

Meski aku tak punya banyak waktu dan uang tapi setidaknya aku punya nyali dan ambisi yang besar untuk membuat expedisi ini berhasil. Kala orang orang berkata bahwa pendakian gunung semeru akan menghabiskan dana sekitar 200 – 300 Ribu aku mencoba meng evaluasi harga tersebut. aku mulai mengira ngira harga yang pantas untuk gunung ini. Akhirnya harga itu pun mulai terbaca. 100 ribu adalah harga perkiraanku untuk gunung ini.

7117_103068

Tancap Gas
Di sini aku merasa menjadi orang yang paling bertanggungjawab karena telah mengajak 3 orang sahabatku. Walaupun sebenarnya aku kurang paham tentang pendakian gunung semeru, namun lagi lagi ambisi lah yang meyakinkanku. Kami mecoba membentuk sebuah tim yang solid demi keberhasilan expedisi ini. Ku hilangkan jabatan antara senior dan junior di tim ini. Semua bekerja berdasar tugasnya demi sebuah cita cita bersama.

7117_10306805

Pada hari pertama kami berangkat menuju malang jam 1 siang dengan menggunakan motor honda prima dan star Dengan kecepatan rata rata 80 KM/jam. Setelah melalui Boyolali-Sragen-Ngawi-Caruban-Nganjuk-Kertosono-Jombang-Mojokerto dan pandaan kamipun sampai di lawang. Kami mencoba mendaki gunung Arjuna melalui kebun teh wonosari. Di sela ketidaktahuan perjalanan kami banyak terhenti untuk bertanya pada penduduk, bahkan kami sempat terpisah di mojokerto hingga akhirnya bertemu kembali di Lawang.

 

Arjuna Yang Terbakar
Dengan susah payah akhirnya kami dapat mencapai basecamp pada jam 11 malam. Masalah mulai datang, Kami hanya di ijinkan mendaki hingga pos 2 karena Gunung arjuna sedang mengalami kebakaran. Harapan mulai pudar mengingat jauhnya perjalanan yang kami tempuh tidak berbuah hasil. Akhirnya kami banting stir menuju gunung semeru. Dari Lawang kami bergerak menuju Tumpang. Kami beristirahat di sebuah mushola kecil di pinggir jalan di daerah tumpang. Jam 3 pagi hari ke 2 kami menuju tempat perijinan gunung semeru yang terletak di daerah tumpang.

Pelanggan Pertama Photocopy
Masalah kembali melanda, syarat pendaki gunung semeru harus mempunyai KTP/SIM. MuhSon dan Koh Di menggunakan SIM, sedangkan aku dan Zaid tidak mempunyai SIM/KTP. Pendaki harus mempunyai photocopy SIM/KTP sebagai salah satu syarat pendakian. Kami segera mencari tempat photocopy. Mengingat kami sudah mulai berada di daerah pedalaman kami harus turun menuju arah Lawang untuk menemukan tempat photocopy. Setelah menemukan tempat photocopy kami tidur di terasnya mengingat saat itu masih jam 03.30 pagi.

Setelah toko itu buka kami menjadi pelanggan pertama. Jam 6 pagi setelah kami mencari makan kami segera kembali ke tempat perijinan dengan wajah harap harap cemas. Akhirnya dengan negosiasi yang cukup rumit kami ber 4 di ijinkan untuk menuju Ranupani yang merupakan basecamp pendakian Semeru.

Teh Panas Di Dermaga Ranupane
Sepanjang 25 Km menuju ranupani adalah perjalanan yang menyenangkan, melewati persawahan, bukit bukit dan pemandangan menawan gunung Bromo yang di hiasi dengan terik mentari pagi. Jalan yang kami lalui sangat extreem, Jalan ini biasa di lewati jeep yang disewa oleh para pendaki. Bahkan tak jarang pembonceng harus turun dari singgasananya mengingat jalan yang teramat terjal.

Melalui perjalanan yang menyenangkan dan menegangkan akhirnya kami mencapai desa Ranupani. Ranu pani adalah desa yang berketinggian 2200 MDPL. Di desa tersebut terdapat 2 danau, yaitu ranu pani dan ranu regulo. Setelah beristirahat dan meneguk teh panas di dermaga ranupane di iringi air yang masih berkabut kami pun mulai bersiap. Kami menitipkan motor dan memberikan surat ijin dari pos perijinan kepada petugas. Lalu pendakian ini pun dimulai.

Pertama kami melewati jalanan aspal yang disusul oleh jalanan setapak. Kami melewati pinggir bukit yang bergelombang sehingga membuat jalur berkelok kelok. Di tengah perjalanan kami melewati batu yang sangat besar di kanan jalan yang di sebut Waturejeg. Setelah itu jalan mulai menyempit dengan longsor di beberapa kawasan.

Setelah berjalan sepanjang 10 KM akhirnya kami sampai di kawasan ranu kumbolo sekitar jam 12 siang. Kabut menyambut kami di tengah keindahan ranukumbolo. Padang sabana seakan ramah menggoda memaksa kami untuk berhenti. Ketenangan air ranu kumbolo seakan menggambarkan kedamaian sejati yang abadi.

Kopi Susu Di tepi Ranukumbolo
Danau ranu kumbolo mempunyai luas sekitar 14 hektar. Dengan ribuan ikan emas yang mendiaminya. Kawasan danau ranu kumbolo yang indah ini berketinggian 2400 MDPL. Kami beristirahat di pos ranukumbolo yang berupa bangunan tembok bergenteng. Sambil memasak sesekali kami mencelupkan kaki ke air ranu kumbolo. Angin surga seakan menggores rambutku di sela tegukan hangat kopi susu. Inilah hidup yang sesungguhnya dan merdekalah jiwa kami.

Jam 1.30 kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Arcopodo (Target camp). Kami membawa cukup banyak air karena sumber air di kawasan kalimati letaknya tersembunyi. Kami tak mau mengambil resiko karena setiap jejak yang terukir adalah langkah pertama kami di tempat itu.
Oro oro ombo kembali memanjakan mata kami. Oro oro ombo adalah bekas rawa yang mengering yang di tumbuhi vegetasi rumput. Besarnya mencapai lapangan bola Abu Bakrin
Dari sini puncak semeru mulai terlihat,bersembunyi di balik bukit. Kepulan asap tebal berterbangan dalam rentang 15 menit yang merupakan luapan kawah jonggring saloka dan sekaligus menjadi ciri khas gunung Semeru.
Sekitar pukul 5 sore kami sampai di kalimati. Di sini beralaskan pasir bekas letusan kawah jonggring saloka.Di sini terdapat kawasan terbuka yang cukup luas untuk mendaratkan helikopter. Dari sini puncak semeru baru menampakkan dirinya dengan keagungan yang mempesona.

Kami mulai memasuki kawasan hutan yang kaya akan vegetasi. Bunga bunga biru kuning bertebaran di antara pohon cemara.Kawasan ini di sebut kawasan cemoro kandang. Jalur tidak terlalu menanjak hingga sampai di kalimati. Di tengah jalan banyak di jumpai hewan liar yang di perkirakan babi

10-Ara-Ara-Amba-Wide-Plain-Savanna.jpg

Malam Menjelang,Petang Menyambut
Lalu kami melanjutkan perjalanan menuju Arcopodo. Tapi sayang petang telah tiba,sehingga kami harus berhenti membangun tenda. Malam itu menjadi malam yang mencekam karena para personil mulai kehilangan semangat. Setelah makan malam kami beristirahat untuk menghemat tenaga.
Jam 3 pagi hari ke 3 kami kembali berangkat menuju arcopodo. Dari arcopodo Jalanan semakin terjal dengan jurang di kanan dan kiri. Banyak jalur jalur longsor dan rapuh. Medan mulai berbatu dan berpasir.

1 jam berselang kami mencapai Cemara tunggal. Beberapa meter sebelum cemara tunggal kami melewati jalur yang sangat berbahaya, berupa pasir, sempit dan mudah lonsor. Daerah itu sering disebut daerah kelik. Sedangkan cemara tunggal adalah pohon cemara tertinggi di gunung semeru yang berdiri gagah sendirian di batas vegetasi.

309269_2885000

Summit Attack
Dari sini letusan jonggring saloka semakin indah,mengepul bak raksasa pasir. Dengan sisa sisa tenaga kami berjalan menuju puncak. Medan yang harus dilewati adalah tanjakan pasir dengan hiasan kerikil yang membuat kami cukup kerepotan melaluinya. Namun saat matahari terbit, seolah kami bangkit dari keterpurukan. Sinarnya memancar menabur harapan bagi para petualang
Kaki kaki nekad terus berjalan Meski Sesekali terkapar. 3 jam berselang atau tepatnya jam 9 pagi kami menggapai mahameru (Puncak semeru). Kerja keras kami terbayar lunas oleh keindahan dalam kebanggaan.

269055_2191170

Siswa Pertama
Letusan jonggring saloka seakan ramah menyambut. In memoriam soek hoek gie seakan menjadi saksi bisu keberhasilan kami. Dan kamipun menjadi Siswa SMAN Kotamungkid Magelang yang menggapai ujung semeru.

Ku buktikan bahwa ketidaktahuan bukanlah musuh yang mengerikan karena sebenarnya tanda tanya adalah sesuatu yang membuat manusia terus berkembang


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: